Minggu, 3 Juni 2018 di bawah sorot lampu Stadion Pakansari, barangkali bakal menjadi malam yang selalu mampir di benak Muhammad Ridho Djazulie, penjaga gawang Madura United. Kala itu, Ridho, sapaan karibnya, untuk kali perdana dipercaya mengawal mistar timnas U-23 Indonesia proyeksi Asian Games. Mimpi sang pemain sejak memulai karier profesional pada 2012 di klub kota kelahirannya, Persip Pekalongan.

Meskipun bukan laga dalam kalender FIFA, paling tidak Muhammad Ridho mencetak clean sheet dalam laga melawan Thailand yang berakhir imbang tanpa gol tersebut.

Kerja keras Muhammad Ridho terbayar. Pada Liga 1 musim 2017,  ia memang tercatat sebagai kiper tersibuk dengan total 104 kali penyelamatan. Klubnya saat itu, Borneo FC, bahkan menjadi tim nomor empat yang paling sedikit kebobolan.

Sejak pemanggilan pertama, Ridho terbilang menjadi kiper langganan timnas Indonesia, dari era kepelatihan Luis Milla hingga Simon Mcmenemy. Kendati, tidak melulu menjadi yang utama. Kini, penjaga gawang berusia 28 tahun itu telah mengantongi tiga caps bersama skuad senior Garuda. Debut kompetitif perdananya dimulai pada laga persahabatan kontra Hong Kong, di tahun yang sama.

Kemampuan mumpuni Muhammad Ridho di bawah mistar ditunjang sikap terpuji di dalam dan di luar lapangan. Tentu, hal itu menjadi nilai plus bagi pelatih-pelatih yang hobi menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi di dalam skuat, tidak terkecuali (mungkin) bagi pelatih baru timnas Indonesia, Shin Tae-yong.

Simak cerita eksklusif Muhammad Ridho tentang musim pertamanya di Madura United, peran besar sang ibu dalam kariernya, dan harapannya untuk timnas di bawah arahan pria Korea Selatan itu, berikut ini:

Cerita Bola (CB): Bagaimana musim pertama kamu di Madura United? Sesuai harapan saat memutuskan pindah dari Borneo FC kah?

Muhammad Ridho (MR): Alhamdulillah, sesuai harapan. Yang jelas, tantangan di sini lebih besar karena di sini dituntut dengan ekspektasi yang lebih tinggi, yaitu juara. Ya, musim lalu kami memang gagal menuntaskan target itu. Tetapi, musim lalu juga kami bisa menembus semifinal Piala Presiden dan Piala Indonesia.

CB: Penyelamatan paling berkesan yang mana? Lalu, siapa sih striker yang paling bahaya menurut kamu?

MR: Penyelamatan paling berkesan musim ini saat melawan Perseru Badak Lampung di Pamekasan. Waktu itu, sundulan jarak dekat lawan saya tepis dengan tangan kiri. Enggak menyangka juga.

Untuk striker yang paling bikin deg-degan mungkin [Marko] Simic kali ya. Selama dia di Indonesia, saya pikir dia akan menjadi salah satu yang berbahaya.

CB: Apa yang kamu pikirkan pas malam sebelum tidur setelah tahu bahwa besok kamu akan melakoni debut di timnas?

MR: Deg-degan sih. Biasa tidur jam 10 malam, baru bisa tidur sampai jam 12 malam. Sebelum merem, saya membayangkan situasi yang mungkin akan saya hadapi. Bagaimana situasi satu lawan satu, situasi bola-bola mati, situasi umpan silang. Mungkin juga itu menjadi salah satu kunci agar saya lebih siap dan tampil maksimal.

CB: Boleh digambarkan seperti apa rasanya untuk kali pertama bermain di kandang rival, di depan puluhan ribu suporter Malaysia, di ajang sekelas Pra-Piala Dunia?

Muhammad Ridho vs Malaysia

MR: Kecewa memang dari sisi hasil. Tetapi, saya senang ditonton penuh satu stadion begitu. Itu juga menjadi kebanggaan tersendiri bagi saya. Pengalaman yang sangat berharga bagi karier saya.

CB: Sebesar apa peran pelatih kiper kamu waktu di Borneo FC, Luizinho Passos?

MR: Dia sosok yang luar biasa. Dia selalu mendukung saya dimanapun saya berada. Rindu sekali berlatih dengannya. Saya cukup merasa kehilangan [sejak pindah ke Madura United]. Saya berharap bisa bekerja sama lagi dengannya suatu hari nanti.

CB: Saat masih sama-sama membela Persip Pekalongan, apa yang kamu ingat dari sosok Patricio “Pato” Jimenez (mantan bek Persib Bandung)? Masih berkomunikasi?

Muhammad Ridho - Patricio Jimenez

MR: Pato sangat berperan dalam karier saya. Waktu itu dia selalu bilang, saya harus yakin suatu saat nanti saya akan menjadi kiper terbaik di Indonesia. Pato juga mengingatkan saya untuk selalu meminta doa kepada Ibu. Belum sempat bertemu lagi dengannya, tetapi kami masih terus menjalin komunikasi.

CB: Apa arti Ibu buat kamu?

Muhammad Ridho & Ibu

MR: Segalanya! Karier Ridho sampai di titik ini pun karena doa Ibu. Dari dulu Ridho merintis, sejak masih main tarkam, hidup susah, Ibu yang jadi saksi. Sekarang Alhamdulillah, doanya pelan-pelan diijabah sama Allah. Mudah-mudah semakin ke sini semakin baik lagi. Amin.

CB: Ada yang ingin kamu sampaikan untuk mantan pelatih kiper kamu di timnas era Milla, Eduardo Perez, yang kini ditunjuk sebagai pelatih kepala PSS Sleman?

MR: Ya, saya juga kangen sama coach Edu. Dia yang memberikan banyak ilmu baru di timnas. Saya selalu mendoakan yang terbaik untuknya. Semoga dia bisa membawa PSS lebih baik dari musim lalu.

CB: Dari perspektif pemain, seperti apa harapan kamu untuk pelatih baru timnas Indonesia, Shin Tae-yong?

MR: Untuk pelatih Shin, selamat bekerja. Kami sebagai pemain tentu berharap dia mampu memberikan prestasi terbaik untuk timnas. Mudah-mudahan dia bisa mempersembahkan trofi untuk Indonesia.

CB: Satu lagi, apa harapan kamu di 2020?

MR: Ya, saya berharap bisa memberikan lebih, lebih, lebih lagi, yang terbaik untuk Madura United dan timnas insya Allah. Terus menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun kemarin untuk keluarga, untuk tim, dan semoga target juara Liga 1 tercapai pada tahun ini.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.